BALAI P2SDM Wilayah II Bekali Masyarakat dengan Teknik Rancang Agroforestri

PEKANBARU (6/4/2026) – Menjawab tantangan pengelolaan hutan yang harus seimbang antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan perut masyarakat, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah II menggelar agenda strategis bertajuk Pelatihan Pembuatan Rancangan Agroforestri, yang dilaksanakan secara daring pada 6 s.d. 9 April 2026.

Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Balai P2SDM Wilayah II. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa era kehutanan saat ini menuntut kreativitas dalam pemanfaatan ruang.

“Agroforestri bukan sekadar mencampur tanaman, melainkan sebuah seni manajemen lahan. Kita ingin para pendamping kelompok dan masyarakat memiliki panduan yang terukur agar setiap jengkal lahan hutan memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya,” ungkap beliau pada pembukaan pelatihan.

Kolaborasi Bersama Para Pakar

Peran sentral dalam pelatihan ini dipandu langsung oleh Widyaiswara dari BP2SDM Wilayah II, yaitu Novri Sisfanto, Muhammadun, dan Dodi Putra. Dengan pendekatan yang interaktif, para fasilitator mencoba untuk mengupas tuntas bahwa keberhasilan agroforestri yang dimulai dari sebuah “rancangan di atas kertas” yang akurat.

Para peserta diajak untuk mengoptimalkan potensi dari berbagai materi krusial, mulai dari memahami struktur tajuk dan sistem perakaran agar tanaman hutan dan komoditas pertanian tidak saling berebut nutrisi, memilih komoditas unggulan seperti tanaman buah atau HHBK potensial lainnya yang memiliki nilai pasar tinggi, dan merancang sistem yang tangguh terhadap perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman.

Dari Teori ke Aksi Nyata

Suasana pelatihan tampak hidup dengan sesi diskusi kelompok dan simulasi penyusunan draf rancangan. Para peserta ditantang untuk membedah studi kasus nyata di lapangan, memastikan bahwa pengetahuan yang didapat bisa langsung diimplementasikan di wilayah kerja masing-masing, baik dalam mendampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) maupun Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD).

Dengan selesainya pelatihan ini pada 9 April, diharapkan lahir para perancang agroforestri handal yang mampu mengubah wajah hutan Indonesia menjadi lebih hijau, lebih produktif, dan menjadi tumpuan ekonomi bagi masyarakat lokal secara berkelanjutan (AP).